Indonesia, Swiss, dan AS Fokus Untuk Keberlanjutan Sektor Kakao

JAKARTA, KabarNews | Swisscontact, sebagai pelaksana Program Produksi Kakao Berkelanjutan (Sustainable Cocoa Production Program/ SCPP), mengadakan Rapat Dewan Penasehat dwi-tahunan, yang mempertemukan para donor baik dari pihak swasta maupun publik di Hotel Grand Meliá Jakarta, pada 23 Maret 2017. Kegiatan ini adalah upaya menyelaraskan visi penting para pemangku kepentingan bagi keberlanjutan sektor kakao Indonesia.

Acara ini diprakarsai Sekretariat Negara untuk Urusan Ekonomi (SECO) Swiss, SCPP adalah program Kemitraan Public Swasta (Public Private Partnership) terbesar di Indonesia, bekerjasama dengan dua belas perusahaan cokelat dan kakao lokal dan multi nasional.

Pada tahun 2020, Program ini mencanangkan keikutsertaan lebih dari 130.000 rumah tangga petani kakao tersebar di 50 Kabupaten produsen kakao dengan dukungan Millennium Challenge Account Indonesia (MCA-Indonesia), di bawah proyek Kemakmuran Hijau/Green Prosperity.

Untuk pertama kalinya perwakilan dari Pemerintah Swiss, Kedutaan Besar Amerika Serikat, Pemerintah Indonesia dan kalangan swasta membahas masa depan kakao Indonesia dan Strategi Pengakhiran Berkelanjutan/Sustainable Exit Strategy untuk SCPP dan inisiatif yang serupa dari donor. Perwakilan sektor swasta yang hadir diantaranya Barry Callebaut, Cargill, ECOM, Krakakoa, Mars dan Nestlé.

Beberapa mitra sektor swasta yang memiliki program pengembangan masyarakat diantaranya Cocoa Life (Mondel?z), Cocoa Plan (Nestlé), dan Sustainable Cocoa Initiative (Mars Incorporated).

Endy Pranoto dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian mengatakan, Pemerintah Indonesia memohon kerjasama yang lebih sering antara Pemerintah dan pelaku swasta untuk memastikan keselerasan tujuan para pemangku kepentingan.

“Penting untuk terlibat dalam kemitraan antara sektor swasta dan Pemerintah Indonesia, karena kunci keberlanjutan adalah pendekatan multi-stakeholder. Kita tidak bisa mengandalkan satu intervensi tunggal. Kami bersedia untuk menggabungkan staf pelatihan SCPP sebagai bagian dari inisiatif pemerintah dan saya ingin agar pemerintah semakin banyak dilibatkan dalam berbagai aktivitas yang sedang berjalan,” paparnya.

Pada kesempatan tersebut, Direktur Cocoa Asia Mars Incorporated, Fay Fay Choo mengungkapkan, memang benar bahwa petani telah meninggalkan kakao dalam beberapa tahun terakhir, namun jika ada pembiayaan yang cukup dan pelaksanaanya berkualitas, pihaknya melihat kembalinya antusiasme para petani.

“Sekarang petani kakao memiliki komitmen serta profesional dan mereka menerapkan hasil pembelajaran dari pelatihan yang pernah diikuti untuk mengelola pertanian mereka dan meningkatkan hasil panen. Mars Incorporated melihat masih terbukanya peluang penerapan Sustainability Program yang bermutu,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Kerjasama Pembangunan Ekonomi (SECO) Kedutaan Besar Swiss di Jakarta, Martin Stottele mengatakan, kesempatan yang sangat baik ketika Pemerintah Indonesia, Swiss dan Amerika Serikat, sektor swasta dan NGO bisa duduk bersama berkomitmen bersatu membangun sektor kakao berkelanjutan.

“Sangat penting bahwa kita masing-masing memanfaatkan kekuatan dan bekerja dan mewujudkan tujuan bersama untuk kakao di Indonesia,” ujarnya.

Lebih lanjut, Direktur Program SCPP dan Country Director Swisscontact Indonesia, Manfred Borer menyampaikan, melalui dukungan berlanjut dari pihak publik dan swasta, industri kakao di Indonesia bisa tumbuh berkembang dan menarik generasi muda untuk tetap menekuni atau memulai berkebun kakao.

“Ketika dilakukan dengan benar, berkebun kakao adalah bisnis yang sangat menguntungkan dengan pendapatan yang teratur sehingga mampu mengangkat keluarga petani penghasil kakao dan masyarakat sekitarnya keluar dari kemiskinan,” demikian Manfred Borer. [KN-01]

LEAVE A REPLY