Kepulauan Fam di Raja Ampat Ditetapkan Sebagai Kawasan Konservasi

JAYAPURA, KabarNews | Masyarakat Kepulauan Fam menetapkan Kepulauan Fam yang berada di Distrik Waigeo Barat Kepulauan Raja Ampat, sebagai kawasan konservasi perairan. Kawasan yang akan ditetapkan, yakni seluas 360 ribu hektar dan nantinya menjadi kawasan konservasi terbesar kedua di Raja Ampat.

Laporan tentang meningkatnya aktivitas pengeboman ikan di kawasan perairan kepulauan itu, mengundang kekhawatiran masyarakat dari tiga kampung yang mendiami Kepulauan Fam, yaitu Kampung Saukabu, Kampung Saupapir dan Kampung Fam.

Kekhawatiran itu dikarenakan aktivitas pengeboman ikan dan aktivitas pemanfaatan yang merusak, disamping mengancam ketersediaan sumber daya perikanan masyarakat, kerusakan yang terjadi juga akan mengancam kegiatan pariwisata yang saat ini mulai memberikan keuntungan ekonomi yang nyata bagi masyarakat di Kepulauan Fam.

Menyadari hal itu, masyarakat Kepulauan Fam menyepakati menjadikan wilayahnya sebagai kawasan konservasi dengan tujuan untuk memberi perlindungan dari kegiatan pengrusakan dan mengatur pemanfaatan wilayahnya agar tetap bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Pengukuhan sekaligus ditandainya peresmian Pos Pengawasan yang nantinya akan berfungsi untuk melakukan tugas-tugas pengawasan, berupa patroli untuk pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di kawasan itu, baik berupa bom, potasium hingga jaring dan kapal besar yang beroperasi tanpa izin.

Ketua Dewan Adat Suku Maya, Kristian Thebu mengatakan, masyarakat dari Kampung Saukabu, Kampung Saupapir dan Pam yang nantinya akan terlibat langsung dalam pengelolaan dan penjagaan kawasannya. Sebab masyarakat pula yang telah mengusulkan melalui Dewan Adat agar kawasan itu menjadi kawasan konservasi perairan yang memberlakukan peraturan adat.

“Selaku Ketua Dewan Adat Maya, kami memandang kawasan ini sangat penting bagi masyarakat. Sehingga dengan ditetapkan Kepulauan Fam menjadi kawasan konservasi perairan, akan memberikan dampak positif bagi masyarakat dari ketiga kampung tersebut juga kampung lainnya. Dengan dijaganya pengelolaan sumber perikanan, hasilnya akan menyebar dan tingkat pelanggaran akan bisa ditekan. Semakin banyak ‘tabungan’ ikan, maka Kepulauan Raja Ampat akan semakin kaya,” katanya, Sabtu (18/2/2017).

Kristian menambahkan, kawasan perairan yang mengelilingi Kepulauan Fam ini memang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.

“Hanya jaraknya yang masih dianggap relatif jauh yang menyebabkan kawasan ini sering luput dari patroli pengawasan,” sebutnya.

Sementara itu, Birds Head Seascape Science and Monitoring Senior Coordinator dari Conservation International Indonesia (CI Indonesia), Nur Ismu Hidayat menyatakan, dia bersama timnya menemukan, terumbu karang di perairan Kepulauan Fam masih sangat sehat. Sehingga tak heran masih banyak ditemukan beberapa spesies ikan, termasuk hiu.

“Berdasarkan data penyelaman yang dilakukan Mark Erdmann dan Gerald Allen pada Februari 2013, mereka telah menemukan sebanyak 707 spesies ikan karang, dimana rata-rata di setiap penyelaman ditemukan 202 jenis ikan, dengan catatan tertinggi untuk satu penyelaman adalah sebanyak 357 spesies,” tutur Ismu.

Sejumlah kegiatan terkait lainnya juga sudah dilaksanakan dalam rangka mewujudkan kesepakatan ini. Hal ini mencakup kegiatan penjagaan dan pengawasan melalui patroli, penyadaran masyarakat melalui kegiatan pendidikan lingkungan hidup, serangkaian pelatihan pariwisata berkelanjutan, dan kegiatan berbasis komunitas seperti pembuatan sabun alami dan virgin coconut oil yang diharapkan dapat menjadi pemasukan ekonomi alternatif bagi masyarakat. [KN-01]

LEAVE A REPLY