Otoritas Bandara Cegah Warga Tujuh Negara Muslim Bepergian ke AS

Para demonstran berunjuk rasa di bandara internasional JFK, New York/Foto: VOA

AMERIKA SERIKAT, KabarNews | Otoritas-otoritas bandara di Amerika Serikat mulai menerapkan keputusan Presiden Donald Trump untuk mencegah teroris memasuki Amerika Serikat. Ratusan orang ditahan di pintu masuk bandara di Amerika, pada 28-29 Januari 2017, yang memicu gelombang protes di dalam dan di luar negeri.

Keputusan Presiden Donald Trump menyangkut tujuh negara berpenduduk mayoritas Muslim, yaitu Irak, Iran, Libya, Somalia, Sudan, Suriah, dan Yaman itu membingungkan warga negara-negara tersebut.

Sejumlah penumpang dari negara-negara target itu tidak diizinkan menaiki pesawat yang menuju Amerika Serikat. Pemegang paspor Suriah, Nail Zain, dilarang menaiki pesawat menuju Los Angeles dari bandara Ataturk, Istanbul. Visa Amerika-nya yang baru berumur dua hari tidak mengubah keadaan.

“Istri dan anak saya berada di Amerika Serikat. Putra saya adalah warga negara Amerika Serikat. Kami menunggu kesempatan ini sejak dua tahun silam. Ketika kami akhirnya mendapat kesempatan ini, mereka menghalangi kami sebagai pemegang paspor Suriah untuk bepergian ke sana,” keluh Nail Zain, seperti dikutip dari VOA Indonesia.

Warga negara Sudan, Fatma Abul Qassem, juga harus kembali ke negaranya setelah otoritas bandara di Qatar mencegahnya terbang ke Amerika Serikat.

“Menurut saya keputusan ini tidak adil bagi warga negara Sudan dan Muslim. Jika Amerika ingin melindungi HAM, Amerika harus mempertimbangkan hak-hak kami juga,” kata Fatma Abul Qassem.

Ketua parlemen Iran, Ali Larijani, menyebut larangan bepergian itu “diskriminatif.”

“Menempatkan Iran ke dalam daftar ini dengan dalih khawatir mengenai aksi-aksi terorisme lebih kedengaran seperti lelucon. Bukan rahasia bahwa Iran menghadapi teroris sendirian dalam beberapa tahun belakangan, dan beberapa negara lainnya bergabung kemudian,” kata Ali Larijani.

Sebagian demonstran juga berkumpul di luar Kedutaan Besar Amerika di Tel Aviv, Israel, Minggu (29/1/2017) untuk menyuarakan tentangan mereka terhadap perintah eksekutif yang ditandatangani Presiden Trump.

Gedung Putih membela penerapan larangan bepergian itu, dengan menyatakan bahwa 325 ribu pengunjung memasuki Amerika Serikat pada hari Sabtu dan hanya 109 di antaranya yang ditahan untuk sementara. [VOA/KN-01]

LEAVE A REPLY